“Halo”.
“Selamat Pagi”.
“Hai”.
Itulah sapaan yang setiap pagi aku dengar, belum lagi senyuman setiap orang yang berpapasan dengan ku, sungguh lelah membalasnya satu-persatu. Tapi aku tetap terus tersenyum dan membalas setiap sapaan mereka, entah mengapa naluri ku memaksa demikian, seolah sudah menjadi kewajiban batin ku, memberikan sapaan dan senyuman pada setiap mereka yang menyapa ku. Tak jarang pula ku mendengar bisikan pujian diantara mereka yang ditujukan kepada ku saat di lift, bahkan ada yang memberi ku julukan bidadari surga, badai dan apalah yang lainnya. Hmmm, aneh jika mendengarnya, apalagi badai? Apakah aku sudah memporak-porandakan mereka hingga aku dijuluki seperti itu? Atau aku menghancurkan mereka?. Entahlah, aku tidak memahaminya. Tapi aku bersyukur telah diberi anugerah berupa wajah yang katanya meneduhkan hati mereka, ditambah lagi sikap ku yang katanya selama ini pendiam, kalem, tenang dan elegan?. Setidaknya itulah penilaian mereka tentang aku. Ditambah lagi kinerja ku dalam pekerjaan hampir tidak pernah mengecewakan siapapun, mungkin karena itulah aku dianggap nyaris sempurna. Tapi menurutku pribadi, aku jauh dari kata sempurna.
“Ve!, nih minum, kayanya udah mulai kering tuh gigi dari tadi senyum mulu” ucap salah seorang dengan nada bercanda yang baru saja menghampiri ku.
“apaan sih Nal” ketus ku tetapi tetap mengambil minuman yang ditawarkannya.
“jutek tapi tetep diminum” dengusnya.
Yah, ini lah sahabat terdekat ku dikantor ini, Devi Kinal Putri atau yang biasa dipanggil Kinal. Dan, oh iya, aku belum memperkenalkan diri, aku Jessica Veranda atau yang akrab disapa Ve. Aku sudah bersahabat dengan Kinal sejak duduk di kelas 7, itulah awal mula kami bertemu, lalu kami selalu satu sekolah bahkan satu kelas, hingga di universitas pun kami juga satu jurusan dan satu kelas. Lulus pun kami bersama, dan bahkan bekerja pun disatu kantor, sayangnya kami tidak satu meja. Tapi kami tetap terjalin dalam ikatan persahabatan yang sangat kuat melebihi persahabatan manapun. Hingga kami berdua memiliki julukan, ups, lagi-lagi julukan, jika kami berdua kami sering dipanggil oleh teman maupun rekan kantor VEnomeNAL.
“ngelamun lagi nih bocah, masih pagi juga” ucap Kinal yang membuyarkan lamunanku.
“siapa yang ngelamun, orang lagi mikir juga” kilah ku.
“apa yang lu pikirin pagi-pagi begini?, mikirin si dia ya? Hahaha” ucap Kinal sembari meninggalkan ku.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang, bagaimana tidak, apa yang diucapkan Kinal benar. Aku memikirkan dia, padahal sudah lama aku berpisah dengannya, sudah hampir 5 tahun. Hmmm, inilah kelemahan ku, dari seabrek kelebihan yang kumiliki yang selalu dipuji bahkan tak jarang dipuja orang lain, aku tak bisa cepat melupakan cinta, apalagi dia, cinta yang walaupun kedua tapi ku yakin yang terakhir. Tapi karena keegoisanku dan keras kepalaku dia kulepaskan, bahakan ku hempaskan. Hingga detik ini aku menyesali kesalahanku itu. Karena pada saat itu aku masih labil, pikiranku masih seperti anak baru gede pada umumnya.
**
“yah bocah ngelamun lagi” ucap Kinal menghampii ku dijam istirahat.
“bocah, bocah. Iya om saya bocah” jawabku kesal.
“loh kok om?, gue kan perempuan”
“habisnya aku dipanggil bocah terus sih”
“cie cie ngambek cie” godanya padaku.
“udah dari pada ngambek mendingan turun makan yuk, perut gue udah gemuruh dari tadi nih. Apa lu mau jadi cemilan gue?”
“gak mau, awas aja berani gigit kuping aku lagi” jawabku sambil sedikit menjauh darinya.
“yaudah ayo turun makan siang”
Kami pun turun bersama. Seperti biasa, setiap orang yang berpapasan denganku tersenyum ramah, tak lupa kubalas setiap sapaan mereka.
**
“yeay kenyang” ucap Kinal.
“syukurlah kamu kenyang, jadi kuping aku selamat”
“udah gak selera gue gigitin kuping lu, tapi pengen deh gigitin hidung lu” ucap Kinal menatap ku jahil.
“ya ampun Kinal, tega ya kamu sama aku?” balas ku ngeri.
“tega dong, enak kok. Hahaha” balasnya diikuti tawa ala penjahat di TV.
“ehh tapi Ve, lu seriusan masih belum bisa lupain dia?” tanya Kinal yang mulai serius.
Aku hanya tertunduk lesu medengar pertanyaannya.
“ayolah Ve, dikantor tuh banyak banget yang naksir sama lu, sampe yang udah punya istri aja masih usaha deketin lu, pak boss apalagi. Lu harus bisa buka hati Ve. Admin dimeja depan gue keren, yang dilantai 3 sering ngasih lu bunga juga keren, tajir lagi, pak satpam yang baru itu juga keren abis. Lu tinggal milih aja Ve” ucapnya panjang lebar.
“aku masih belum bisa Nal, aku gak mau kalo akhirnya aku nyaitin mereka”
“gue bingung deh sama lu, bisa banget baik sama orang tapi sama diri sendiri gak bisa”
“maksud kamu apa Nal?” tanyaku bingung.
“lu sadar dong, lu itu selama ini nyiksa diri sendiri. Lagian kalo lu cinta banget sama dia kenapa waktu itu lu bersikap kaya gitu? Kan gue yang gak enak karena gue yang ngenalin lu sama dia”.
“iya nal, maaf” ucapku kembali tertunduk lesu.
“Ve!, buka hati lu Ve, 5 tahun sudah lu nutup hati, pasti karatan tuh dalemnya” ucapnya kembali bercanda.
“tapi Nal, kamu beneran gak tau dia sekarang dimana?”
“yah malah nanyain, gue gak tau Ve, lu kan tau sendiri habis lu lepas dia saat lulusan dia langsung milih kuliah diluar negeri”
“hmmm, iya sih” jawabku lesu.
“yaudah ayo bayar, kita masuk lagi, jam istirahat udah mau habis ni” ucapnya yang menyadarkanku, hampir 1 jam kami disini.
**
Kembali aku berada didepan monitor komputer ku, mengerjakan pekerjaan yang tidak seberapa ini. Belum jam 3 aku sudah menyelesaikan semuanya. Aku memilih menghampiri Kinal.
“BWAAA”
“aaaaarrgghh!! Ahh apaan sih Ve, copot nih dengkul gue lu kagetin”
Aku hanya bisa tertawa melihat reaksinya, Puas, aku puas telah berhasil mengerjainya, karena selama ini selalu aku yang jadi korban kejahilannya.
“lagian kamu ngerjain apa sih Nal?, kok serius banget” tanyaku sambil tertawa.
“ini Ve, lagi ngerekap timesheet karyawan, kan minggu depan udah gajian”
“ngerjain gitu aja tegang” sindirku.
“iihh Ve, ini dari tadi formulanya salah mulu, gue bingung nih” keluh Kinal sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
“mana sini aku liat”
Aku pun membantunya, dan.. selesai.
“aduh makasih banget ya Ve, gue udah bingung nih mana orang finance udah nelpon mulu lagi” ucapnya sambil memeluk dan mencium-cium pipi ku.
“ok ok, tapi ntar pulang beliin es krim ya, lagi pengen banget es krim nih”
“siap nyonyah!” ucapnya sambil hormat ala anak sekolahan upacara.
“yaudah, gue mau naik dulu ya, nyerahin rekap ke bagian finance”
“yaudah, aku balik ke meja aku yah”
Akupun pergi kembali ke meja ku sendiri, dan saat tiba dimeja ternyata boss sedang mencari ku.
“nah ini dia, Jess tolong kamu kerjakan ini ya, ada beberapa Vendor yang mengajukan Invoice. Tolong diperiksa dan besok pagi hasilnya taruh dimeja saya ya”
“ahh iya pak” dengan senyum aku meng iya kan perintah pak boss.
“ya ampun, ini kan sudah jam 15:45, 15 menit menjelang pulang, dan. . . ya Tuhan, 7 Vendor yang harus aku periksa” gumam ku dalam hati melihat beberapa berkas yang menumpuk di meja ku.
Mau tidak mau hari ini aku lembur, karena pak boss minta besok pagi laporannya sudah ada dimeja.
**
“halo Ve, maaf ya telat tadi nunggu HR finance tandatangani rekapan gue” Sapa Kinal saat jam pulang.
“gak papa Nal, kamu pulang aja duluan” jawabku lesu.
“loh katanya mau es krim, ayo aku traktirin” ajaknya semangat.
“besok aja deh Nal, liat nih Invoice yang mesti aku periksa”
“besok aja diperiksanya, sekarang kan udah waktunya pulang” bujuk Kinal.
“gak bisa Nal, pak boss minta laporannya besok pagi, aku mesti lembur”
“jadi diundur nih nge-es krim cantiknya?” tanya Kinal.
“iya Nal, besok aja ya, kamu pulang aja duluan gak papa kok”
“maaf ya Ve, gue pulang duluan ya”
“iya, hati-hati ya”
“iya, dadah sayang” ucap Kinal pamit sambil mencium pipi ku.
**
Hampir 4 jam aku memeriksa tagihan ini, kini memasuki vendor ke 7, vendor terakhir. 7 tagihan dari perusahaan yag berbeda senilai 13miliar, salah sedikit aku lah yang akan diomeli. Fokus ku mulai berkurang, tapi ini yang terakhir. Ku periksa dengan seksama isi dan kelengkapan serta lampiran juga rekapan yang tertera dalam invoice ini.
“akhirnyaaaa, selesai juga” ucapku mengusap mata sambil membenahi posisi duduk.
Entah kenapa tiba-tiba pikiranku dibawa pada saat itu, “aku akan selamanya mencintai mu” itu lah kata-katanya yang selalu teringat olehku. Ah sudahlah.
“hmmmm, sudah jam 20:10, mungkin es krim akan menyegarkan pikiran ku” gumamku dalam hati.
Aku pun memutuskan menuju mini market untuk membeli es krim sebelum pulang.
“hmmm aku mau yang ini, yang ini, yang ini” ya ampun banyak sekali, bisa kah aku menghabiskan semuanya.
“gak papa lah sekali-sekali” pikir ku dalam hati sambil menuju kasir untuk membayar agar bisa segera memakan es krim ini.
“itu kan!!??” terkejut aku meihat seseorang yang sudah lama tak ku temui.
Ku usap-usap mata ku, ku picingkan mata ku untuk memastikan apa yang aku lihat ini benar dan nyata. Walaupun hanya wajah dari samping yang aku lihat, tapi aku tetap bisa mengenalinya.
“hai!” ah sial, kenapa harus aku yang menyapa duluan payah!
“oh, hai, kamu. . . Ve kan?” tanya nya seolah memastikan.
“iya aku Ve” sedikit aneh perbincangan ini.
Adyth, aku bertemu dengan Adyth, dia yang selama ini ku pikirkan. Memakai jas yang bagus, dan rambutnya masih sangat rapih seperti dulu, Ia terlihat sedikit keren, bukan!, bukan sedikit keren, tapi sangat keren.
Tiba-tiba rasa rindu menghampiri, ingin rasanya aku bermanja seperti dulu dan mulai mendekati nya. Tapi ia seperti terlihat bingung, ah!, untung aku cepat menyadarinya. Ada gadis muda yang. . . sangat cantik berdiri disebelahnya.
“Sendirian?” tanyanya yang membuyarkan isi pikiran ku.
“ah, enggak kok” jawabku sambil melihat luar pura-pura ada yang menunggu.
Sial, selama ini aku menyesali dan terus memikirkannya, ternyata setelah 5 tahun dia sudah memiliki pasangan lain. Perih hati ku, sangat perih.
“Adyth!”
“Jangan bercanda!”
“Kenapa aku ahrus cemburu sama kamu?”
“Adyth!”
“Aku gak pernah dengar kamu jadian lagi!”
“Adyth!”
“Ngapain sih jalan-jalan sama pacar disini!”
“Iya iya, aku sendirian”
“Jam segini, sendirian beli es krim”
“Adyth!”
“Ayo bilang sesuatu!”
“Ayo bilang kata-kata yang aku mau!”
Ahh, Cuma mimpi. Ternyata aku masih dikantor, sial ketiduran dikantor.
END.