Jumat, 22 Mei 2015

Adyth

“Halo”.
“Selamat Pagi”.
“Hai”.
Itulah sapaan yang setiap pagi aku dengar, belum lagi senyuman setiap orang yang berpapasan dengan ku, sungguh lelah membalasnya satu-persatu. Tapi aku tetap terus tersenyum dan membalas setiap sapaan mereka, entah mengapa naluri ku memaksa demikian, seolah sudah menjadi kewajiban batin ku, memberikan sapaan dan senyuman pada setiap mereka yang menyapa ku. Tak jarang pula ku mendengar bisikan pujian diantara mereka yang ditujukan kepada ku saat di lift, bahkan ada yang memberi ku julukan bidadari surga, badai dan apalah yang lainnya. Hmmm, aneh jika mendengarnya, apalagi badai? Apakah aku sudah memporak-porandakan mereka hingga aku dijuluki seperti itu? Atau aku menghancurkan mereka?. Entahlah, aku tidak memahaminya. Tapi aku bersyukur telah diberi anugerah berupa wajah yang katanya meneduhkan hati mereka, ditambah lagi sikap ku yang katanya selama ini pendiam, kalem, tenang dan elegan?. Setidaknya itulah penilaian mereka tentang aku. Ditambah lagi kinerja ku dalam pekerjaan hampir tidak pernah mengecewakan siapapun, mungkin karena itulah aku dianggap nyaris sempurna. Tapi menurutku pribadi, aku jauh dari kata sempurna.

“Ve!, nih minum, kayanya udah mulai kering tuh gigi dari tadi senyum mulu” ucap salah seorang dengan nada bercanda yang baru saja menghampiri ku.

“apaan sih Nal” ketus ku tetapi tetap mengambil minuman yang ditawarkannya.

“jutek tapi tetep diminum” dengusnya.

Yah, ini lah sahabat terdekat ku dikantor ini, Devi Kinal Putri atau yang biasa dipanggil Kinal. Dan, oh iya, aku belum memperkenalkan diri, aku Jessica Veranda atau yang akrab disapa Ve. Aku sudah bersahabat dengan Kinal sejak duduk di kelas 7, itulah awal mula kami bertemu, lalu kami selalu satu sekolah bahkan satu kelas, hingga di universitas pun kami juga satu jurusan dan satu kelas. Lulus pun kami bersama, dan bahkan bekerja pun disatu kantor, sayangnya kami tidak satu meja. Tapi kami tetap terjalin dalam ikatan persahabatan yang sangat kuat melebihi persahabatan manapun. Hingga kami berdua memiliki julukan, ups, lagi-lagi julukan, jika kami berdua kami sering dipanggil oleh teman maupun rekan kantor VEnomeNAL.

“ngelamun lagi nih bocah, masih pagi juga” ucap Kinal yang membuyarkan lamunanku.

“siapa yang ngelamun, orang lagi mikir juga” kilah ku.

“apa yang lu pikirin pagi-pagi begini?, mikirin si dia ya? Hahaha” ucap Kinal sembari meninggalkan ku.

Aku hanya bisa menghela nafas panjang, bagaimana tidak, apa yang diucapkan Kinal benar. Aku memikirkan dia, padahal sudah lama aku berpisah dengannya, sudah hampir 5 tahun. Hmmm, inilah kelemahan ku, dari seabrek kelebihan yang kumiliki yang selalu dipuji bahkan tak jarang dipuja orang lain, aku tak bisa cepat melupakan cinta, apalagi dia, cinta yang walaupun kedua tapi ku yakin yang terakhir. Tapi karena keegoisanku dan keras kepalaku dia kulepaskan, bahakan ku hempaskan. Hingga detik ini aku menyesali kesalahanku itu. Karena pada saat itu aku masih labil, pikiranku masih seperti anak baru gede pada umumnya.

**

“yah bocah ngelamun lagi” ucap Kinal menghampii ku dijam istirahat.

“bocah, bocah. Iya om saya bocah” jawabku kesal.
“loh kok om?, gue kan perempuan”

“habisnya aku dipanggil bocah terus sih”

“cie cie ngambek cie” godanya padaku.

“udah dari pada ngambek mendingan turun makan yuk, perut gue udah gemuruh dari tadi nih. Apa lu mau jadi cemilan gue?”

“gak mau, awas aja berani gigit kuping aku lagi” jawabku sambil sedikit menjauh darinya.

“yaudah ayo turun makan siang”

Kami pun turun bersama. Seperti biasa, setiap orang yang berpapasan denganku tersenyum ramah, tak lupa kubalas setiap sapaan mereka.

**

“yeay kenyang” ucap Kinal.

“syukurlah kamu kenyang, jadi kuping aku selamat”

“udah gak selera gue gigitin kuping lu, tapi pengen deh gigitin hidung lu” ucap Kinal menatap ku jahil.

“ya ampun Kinal, tega ya kamu sama aku?” balas ku ngeri.

“tega dong, enak kok. Hahaha” balasnya diikuti tawa ala penjahat di TV.

“ehh tapi Ve, lu seriusan masih belum bisa lupain dia?” tanya Kinal yang mulai serius.
Aku hanya tertunduk lesu medengar pertanyaannya.

“ayolah Ve, dikantor tuh banyak banget yang naksir sama lu, sampe yang udah punya istri aja masih usaha deketin lu, pak boss apalagi. Lu harus bisa buka hati Ve. Admin dimeja depan gue keren, yang dilantai 3 sering ngasih lu bunga juga keren, tajir lagi, pak satpam yang baru itu juga keren abis. Lu tinggal milih aja Ve” ucapnya panjang lebar.

“aku masih belum bisa Nal, aku gak mau kalo akhirnya aku nyaitin mereka”

“gue bingung deh sama lu, bisa banget baik sama orang tapi sama diri sendiri gak bisa”

“maksud kamu apa Nal?” tanyaku bingung.

“lu sadar dong, lu itu selama ini nyiksa diri sendiri. Lagian kalo lu cinta banget sama dia kenapa waktu itu lu bersikap kaya gitu? Kan gue yang gak enak karena gue yang ngenalin lu sama dia”.

“iya nal, maaf” ucapku kembali tertunduk lesu.

“Ve!, buka hati lu Ve, 5 tahun sudah lu nutup hati, pasti karatan tuh dalemnya” ucapnya kembali bercanda.

“tapi Nal, kamu beneran gak tau dia sekarang dimana?”

“yah malah nanyain, gue gak tau Ve, lu kan tau sendiri habis lu lepas dia saat lulusan dia langsung milih kuliah diluar negeri”

“hmmm, iya sih” jawabku lesu.

“yaudah ayo bayar, kita masuk lagi, jam istirahat udah mau habis ni” ucapnya yang menyadarkanku, hampir 1 jam kami disini.

**

Kembali aku berada didepan monitor komputer ku, mengerjakan pekerjaan yang tidak seberapa ini. Belum jam 3 aku sudah menyelesaikan semuanya. Aku memilih menghampiri Kinal.

“BWAAA”

“aaaaarrgghh!! Ahh apaan sih Ve, copot nih dengkul gue lu kagetin”
Aku hanya bisa tertawa melihat reaksinya, Puas, aku puas telah berhasil mengerjainya, karena selama ini selalu aku yang jadi korban kejahilannya.

“lagian kamu ngerjain apa sih Nal?, kok serius banget” tanyaku sambil tertawa.

“ini Ve, lagi ngerekap timesheet karyawan, kan minggu depan udah gajian”

“ngerjain gitu aja tegang” sindirku.

“iihh Ve, ini dari tadi formulanya salah mulu, gue bingung nih” keluh Kinal sambil menggaruk kepala yang tak gatal.

“mana sini aku liat”
Aku pun membantunya, dan.. selesai.

“aduh makasih banget ya Ve, gue udah bingung nih mana orang finance udah nelpon mulu lagi” ucapnya sambil memeluk dan mencium-cium pipi ku.

“ok ok, tapi ntar pulang beliin es krim ya, lagi pengen banget es krim nih”

“siap nyonyah!” ucapnya sambil hormat ala anak sekolahan upacara.

“yaudah, gue mau naik dulu ya, nyerahin rekap ke bagian finance”

“yaudah, aku balik ke meja aku yah”
Akupun pergi kembali ke meja ku sendiri, dan saat tiba dimeja ternyata boss sedang mencari ku.

“nah ini dia, Jess tolong kamu kerjakan ini ya, ada beberapa Vendor yang mengajukan Invoice. Tolong diperiksa dan besok pagi hasilnya taruh dimeja saya ya”

“ahh iya pak” dengan senyum aku meng iya kan perintah pak boss.

“ya ampun, ini kan sudah jam 15:45, 15 menit menjelang pulang, dan. . . ya Tuhan, 7 Vendor yang harus aku periksa” gumam ku dalam hati melihat beberapa berkas yang menumpuk di meja ku.

Mau tidak mau hari ini aku lembur, karena pak boss minta besok pagi laporannya sudah ada dimeja.

**

“halo Ve, maaf ya telat tadi nunggu HR finance tandatangani rekapan gue” Sapa Kinal saat jam pulang.

“gak papa Nal, kamu pulang aja duluan” jawabku lesu.

“loh katanya mau es krim, ayo aku traktirin” ajaknya semangat.

“besok aja deh Nal, liat nih Invoice yang mesti aku periksa”

“besok aja diperiksanya, sekarang kan udah waktunya pulang” bujuk Kinal.

“gak bisa Nal, pak boss minta laporannya besok pagi, aku mesti lembur”

“jadi diundur nih nge-es krim cantiknya?” tanya Kinal.

“iya Nal, besok aja ya, kamu pulang aja duluan gak papa kok”

“maaf ya Ve, gue pulang duluan ya”

“iya, hati-hati ya”

“iya, dadah sayang” ucap Kinal pamit sambil mencium pipi ku.

**

Hampir 4 jam aku memeriksa tagihan ini, kini memasuki vendor ke 7, vendor terakhir. 7 tagihan dari perusahaan yag berbeda senilai 13miliar, salah sedikit aku lah yang akan diomeli. Fokus ku mulai berkurang, tapi ini yang terakhir. Ku periksa dengan seksama isi dan kelengkapan serta lampiran juga rekapan yang tertera dalam invoice ini.

“akhirnyaaaa, selesai juga” ucapku mengusap mata sambil membenahi posisi duduk.

Entah kenapa tiba-tiba pikiranku dibawa pada saat itu, “aku akan selamanya mencintai mu” itu lah kata-katanya yang selalu teringat olehku. Ah sudahlah.

“hmmmm, sudah jam 20:10, mungkin es krim akan menyegarkan pikiran ku” gumamku dalam hati.
Aku pun memutuskan menuju mini market untuk membeli es krim sebelum pulang.

“hmmm aku mau yang ini, yang ini, yang ini” ya ampun banyak sekali, bisa kah aku menghabiskan semuanya.

“gak papa lah sekali-sekali” pikir ku dalam hati sambil menuju kasir untuk membayar agar bisa segera memakan es krim ini.

“itu kan!!??” terkejut aku meihat seseorang yang sudah lama tak ku temui.
Ku usap-usap mata ku, ku picingkan mata ku untuk memastikan apa yang aku lihat ini benar dan nyata. Walaupun hanya wajah dari samping yang aku lihat, tapi aku tetap bisa mengenalinya.

“hai!” ah sial, kenapa harus aku yang menyapa duluan payah!

“oh, hai, kamu. . . Ve kan?” tanya nya seolah memastikan.

“iya aku Ve” sedikit aneh perbincangan ini.
Adyth, aku bertemu dengan Adyth, dia yang selama ini ku pikirkan. Memakai jas yang bagus, dan rambutnya masih sangat rapih seperti dulu, Ia terlihat sedikit keren, bukan!, bukan sedikit keren, tapi sangat keren.

Tiba-tiba rasa rindu menghampiri, ingin rasanya aku bermanja seperti dulu dan mulai mendekati nya. Tapi ia seperti terlihat bingung, ah!, untung aku cepat menyadarinya. Ada gadis muda yang. . . sangat cantik berdiri disebelahnya.

“Sendirian?” tanyanya yang membuyarkan isi pikiran ku.

“ah, enggak kok” jawabku sambil melihat luar pura-pura ada yang menunggu.
Sial, selama ini aku menyesali dan terus memikirkannya, ternyata setelah 5 tahun dia sudah memiliki pasangan lain. Perih hati ku, sangat perih.

“Adyth!”
“Jangan bercanda!”
“Kenapa aku ahrus cemburu sama kamu?”
“Adyth!”
“Aku gak pernah dengar kamu jadian lagi!”
“Adyth!”
“Ngapain sih jalan-jalan sama pacar disini!”
“Iya iya, aku sendirian”
“Jam segini, sendirian beli es krim”
“Adyth!”
“Ayo bilang sesuatu!”
“Ayo bilang kata-kata yang aku mau!”

Ahh, Cuma mimpi. Ternyata aku masih dikantor, sial ketiduran dikantor.

END.

Rabu, 01 April 2015

Will Be Wait For You



WILL BE WAIT FOR YOU

            Koridor sekolah yang tadinya ramai kini sunyi senyap, setiap pasang mata menatap pada satu adegan yang sedang terjadi, seorang siswa tingkat 1 SMU yang tengah berlutut dihadapan siswi kakak kelasnya yang tersenyum penuh keramahan dan kedamaian. Siswa itu kelihatannya gugup, tangannya yang memegang bunga mulai berkeringat dan gemetar.

“kakak mau gak jadi pacarku?” sepenggal kalimat yang terlontar itu sontak membuat siswi itu terkejut tapi semakin tersenyum.
“kamu kelas berapa?” tanya sang kakak kelas sambil sedikit membungkukan badan dengan senyum yang semakin merekah.
“kelas 1 kak”
“hmmmm.. perjalanan kamu masih panjang, kakak juga. Lebih baik kamu selesaikan sekolah, terus kuliah. Nah setelah itu kamu tentuin siapa yang cocok jadi pendamping kamu, kalo kakak yang kamu anggap pantas dan tepat, datanglah kepada kakak disaat yang tepat” jawab siswi itu dengan penuh karisma dan senyum yang tak pudar sedikit pun.
“ini bunganya buat kakak?” tanyanya lagi.
“iya kak” jawab sang adik kelas dengan senyum malu-malu.
“makasih ya” siswi itu pun mengambil bunga itu sambil tersenyum hangat kepada sang adik kelas.

Perlahan siswi itu pergi meninggalkan adik kelasnya, apakah adik kelas itu terluka?. Sepertinya tidak, karena ia malah tersenyum bahagia. Luar biasa, penolakannya itu sangat halus dan lembut, bahkan bisa dijadikan motivasi untuk serius bersekolah hingga sukses. Hal seperti ini memang tidak jarang, karena siswi itu memang sangat terkenal di sekolah ini, bahkan aku pun yang satu tingkat dengannya merasa sangat kagum dan jujur aku juga menyukainya, tapi aku tidak pernah mengungkapkan isi hatiku padanya, karena begitu banyak siswa di sekolah ini dari tingkat 1 sampai tingkat 3 yang pernah menyatakan perasaan padanya, dan tidak ada satupun yang ia terima, semua ia tolak dengan jawaban yang tak terduga, tapi tetap dengan penolakan halus. Dia Jessica Veranda, gadis yang bisa dibilang sempurna luar dan dalam, paras yang cantik dan anggun, diimbangi dengan sikap dan sifat dewasa yang kritis dan diplomatis, tapi sedikit pemalu. Selain karena aku kurang nyali untuk menyatakan perasaan padanya, ada hal lain yang membuatku urung untuk melakukannya, karena dia adalah sahabatku, aku takut kehilangan kedekatan sebagai sahabat karena keegoisan hatiku.

Setelah adegan romansa sekolahan berakhir dengan perginya Veranda, atmosfir koridor pun kembali normal, ramainya siswa-siswi pun mulai meriuhkan suasana khas pagi hari disekolah.

“ciee yang pagi-pagi dapat bunga, wangi bener lagi bunganya”
“apaan sih?” jawabnya malu-malu.

Kami pun berjalan beriringan menuju kelas, setibanya dikelas kami berdua disambut dengan satu sahabat kami lagi, dia adalah gadis yang enerjik dan sangat suka bercanda, tapi sekalinya serius, auranya berubah menjadi seperti sosok pemimpin yang tegas dan disiplin, dialah Devi Kinal Putri. Kami bertiga sudah bersahabat sejak kelas 4 SD, saat itu Ve adalah murid baru pindahan dari luar kota. Sejak itu kami selalu 1 sekolah, berkembang menjadi remaja bersama. Walaupun aku satu-satunya cowok, tapi aku tidak berkembang jadi seperti cowok alay, aku malah lebih kearah seperti pelindung bagi mereka berdua.. #tssaah

“wuiih, ni princess pagi-pagi udah bawa bunga aja” sapa kinal pada Veranda.
“biasalah, dia kan gebetan semua cowok disekolah ini” jawabku bercanda.
“coba liat bunganya,,, wuih wangi banget, buat gue aja ya” kinal merebut bunga itu dan memintanya dengan wajah penuh harap.
“enak aja, itu bunga buat aku” Ve kembali merebut bunganya.
“pelit banget sih, ntar juga ada yang kasih bunga lagi”
“udah-udah, ntar gue beliin lu bunga, masih pagi udah berisik” sahutku.
“yeee, males banget dapat bunga dari lu,, gue mau bunga dari princess Ve”
“lah, dari pada ga pernah ada yang kasih lu bunga”
“sorry aje ye, gue sering keles dapat bunga,, ya kan Ve?” jawabnya tak mau kalah.
“Bunga apaan, bunga Raflesia Arnoldy?” sahutku.

Veranda hanya tersenyum melihat pertikaian kami. Canda pagi hari seperti ini memang sering kami lakukan, karena kami sudah sangat dekat.
Bell tanda mulai pelajaran sudah berbunyi, memaksa kami menghentikan candaan dan kembali ke kursi masing-masing untuk memulai pelajaran.

***
“Heh, bangun,, ikut ngantin gak?” terdengar suara gadis yang tak asing membangunkanku.
“yaudah kalo gak mau ikut, daah”
“iya ikut-ikut, tunggu bentar nal” sial, aku ketiduran lagi dijam pelajaran pertama dan kedua.

Dengan berat aku bangun dan beranjak dari kursiku, seperti ini lah kedekatan ikatan persahabatan kami, hampir setiap kegiatan kami lakukan bersama, bahkan sering kali aku ikut menemani mereka pergi belanja pakaian wanita, kecuali pakaian dalam tentunya.

“sekali-sekali kita jalan ketempat wisata alam lagi yuk, bosen gue kalo setiap pergi ke mall, nonton, dufan  atau cuma ngumpul dirumah Ve” dengan mulut penuh jajanan khas sekolahan Kinal membuka obrolan.
“hmmm, boleh juga tuh.. udah lama juga kita gak main outbond” sahutku.
“maksud gue kali ini bukan main outbond, tapi kita mendaki gunung, pergi ke goa gitu atau air terjun”
“busetdah, mesti keluar kota dong?” jawabku disertai pertanyaan.
“iyalah, kenapa? Takut?” delik Kinal.
“Oke, siapa takut!”
“Kirain lu takut, lu gimana Ve? Diem aja dari tadi”
“hmmm,, you know lah.. tapi kan kita bentar lagi ujian kenaikan?” jawabnya.
“habis ujian gimana?” saran Kinal.

Kami terus melanjutkan obrolan,menentukan waktu, tempat dan persiapan-persiapannya, Kinal yang memang jiwa kepemimpinannya yang tinggi menyusun rencana liburan kami ini, bukannya aku sebagai cowok kalah sih, tapi aku lebih suka untuk mengikuti alur saja.

“oke kalo gitu fix ya, kita ke Jawa Timur pas liburan kenaikan kelas bulan depan?”
“siiaapp!” jawab Ve dan aku berbarengan.

***
Setelah adanya rencana liburan keluar kota, kami jadi jarang pergi keluar karena kami semua menabung untuk mengumpulkan dana liburan, kecuali Veranda, ia berasal dari keluarga menengah keatas, jadi tidak perlu menabung untuk liburan nanti, tapi karena kesetia kawanannya, ia juga tidak pernah hangout. Selain itu juga kami lebih fokus untuk mempersiapkan diri di ujian kenaikan kelas. Setiap ada waktu kami selalu belajar bersama dirumah Veranda. Rumah Veranda sudah merupakan rumah kedua bagi aku dan Kinal, kami juga sudah sangat akrab dengan orang tuanya, bahkan karena saking akrabnya, orang tua Ve sudah menganggap aku dan Kinal sebagai anak mereka juga.
Tidak terasa ujian kenaikan telah berlangsung 5 hari, dan hari ini adalah ujian terakhir. Itu berarti waktu liburan kami semakin dekat.

“yeeay,, akhirnya selesai ujiannya” seru Kinal saat kami sudah berkumpul dirumah Ve, diruang santai tepatnya.
“iya nih, ujiannya kita lancar ya”
“iyalah, kan ada Ve yang selalu bantuin kita belajar sebelum ujian.. makasih ya Ve sayang” ucap Kinal sambil memeluk dan mencium pipi Ve.
“iihh, jangan gitu dong nal, malu tau” hindar Ve.
“hmmmm,, minggu depan udah pengumuman kenaikan kan?.. berarti minggu depannya lagi kita bisa pergi liburan” ucapku.
“hmmmm… iya nih, akhirnya bentar lagi rencana gue bakal terwujud” ucap Kinal, meskipun ada nada keraguan, tapi wajahnya tetap bersemangat. Aneh.
“iyaaa,, cuma rencana lu, bukan rencana kita” sahutku.
“ciieee ngambek, iya iya.. rencana kita bersama” jawabnya.

Lagi, Ve tersenyum melihat percakapan kami, tak pernah bosan aku melihat senyumnya itu. Senyum sederhana yang khas, menonjolkan tulang pipinya. Walaupun sederhana tapi akan membuat bahagia bagi siapa saja yang melihatnya. Sungguh Ve adalah gadis idaman bagi siapa saja, sifatnya yang pendiam dan tidak banyak bicara, serta sikap dewasa yang tersirat dari kehati-hatiannya dalam berucap dan bertindak, dibalut keanggunan wajah bak bidadari khayangan. Tanpa sadar perasaan ini semakin membludak memenuhi setiap relung hati.

Tapi dibalik senyumnya kali ini, aku melihat kesedihan, sebentar iya terdiam dan tertunduk, tapi sesegera mungkin iya merubah ekspresinya lagi menjadi bahagia karena candaan Kinal. Tanpa sadar aku melamun.

“woii ngelamun aja lu” suara Kinal mengejutkanku.
“tuh Ibu nya Ve manggil lu tuh, bantuin sana siapin makan di meja”
“ahh lu nal, bukannya nyiapin makan tuh tugasnya cewek ya” gerutu ku.

Akupun langsung beranjak untuk membantu Ibu Ve menyiapkan makanan, sedangkan Kinal hanya mentertawakanku.

Kurang lebih setengah jam aku menyiapkan makanan, karena memang banyak sekali yang harus disiapkan. Aku pun kembali ke ruang santai untuk memanggil Ve dan Kinal,, duh serasa  jadi pembantu.. ku lihat Kinal tertidur di sofa sedangkan Ve membaca Novel kesukaannya.

“hmmm,, kesempatan nih ngerjain Kinal” gumam ku.

Saat Ve melihat ku, aku hanya menempelkan jari ku dibibir dan berucap “ssssttt”, Ve pun mengerti maksudku, setelah cukup dekat dengan Kinal, aku mendekatkan mulut ku kearah telinganya. . .

“woooiiiii!!!,,, bangun!!, makanannya udah siap” teriakku tepat ditelinga Kinal.
Membuatnya sangat terkejut dan bangun secara mendadak dengan reflek yang sangat lucu untuk dilihat, bahkan Ve pun tertawa melihat reflek Kinal.
“woh sialan!! Sini lu cari gara-gara sama gue” Kinal mengejarku dan melemparkan bantal dan boneka yang ada didekatnya.

Gaduh dan ricuh, itulah kesan yang terlihat dari candaan kami, tapi keluarga Ve tidak pernah keberatan, bahkan saat Kinal sakit dan tidak bisa main kerumah Ve, ibunda Ve merasa rumah menjadi sepi.

“oke nal sorry sorry sorry, canda doang ahh, ayo ke meja makan, lu udah laper kan?” bujuk ku menghentikan gempuran Kinal.
“selamat lu!!, untung gua laper, kalo enggak gua serang terus lu sampe K.O” dengusnya lalu pergi ke arah meja makan. Ve yang melihat kami hanya tertawa terkikih.

Selesai makan kami kembali keruang santai, mengobrol, bercanda dll.

“ciiee yang searching terus soal Bromo, udah gak sabar banget ya?” tanyaku saat sekilas melihat layar ponsel Ve. Ve hanya menjawab pertanyaan ku dengan anggukan dan senyuman. Lagi, kurasakan keanehan dalam senyum Ve.

Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, kami pun pamit untuk pulang kepada ibunda Ve.

“tante,, kami pamit pulang ya, besok main lagi” ucap kami sambil mencium tangan ibunda Ve.
Kami pun pulang bersama, sebelum pulang aku mengantar Kinal terlebih dahulu.
“Nal. .”
“iya?”
“lu ngerasa ada yang aneh gak sama Ve?”
“aneh apaan?, gak ada kok, lu aja yang sensitif kali” jawabnya, lalu menutup telinganya dengan earphone seolah tidak ingin berbicara dengan ku.

***
Tidak terasa hari sidang dan pengumuman pun datang, hari pengumuman kenaikan kelas. Hari yang kami tunggu karena ada rencana kami yang sudah menunggu, juga sekaligus menjadi hari yang mengkhawatirkan karena bisa jadi di tingkat selanjutnya kami tidak sekelas. Tapi kami tidak mau ambil pusing, karena yang terpenting jalani dan nikmati dulu yang ada, jangan terlalu memikirkan hal yang masih jauh didepan dan belum tentu kepastiannya.

“yeeay, kita bertiga naik kelas” lagi, Kinal yang pertama kali membuka obrolan saat menuju kantin sekolah.
“girang banget lu, tadi pas pengumuman diem kaya patung” ledekku.
“apaan sih, komen aja lu”
“oiya, selamat ya Ve masuk 3 besar lagi” ucapku. Ve hanya menjawab dengan senyuman dan anggukkan.
“ga usah dikasih selamat ahh, bosen gue dengernya, tiap semesteran 3 besar mulu, mulai dari SD ga pernah peringkat 4 kebawah” ucap Kinal kesal karena iri.
“yeeee,, lu kalo mau 3 besar juga belajar bener-bener, jangan tiap kita belajar malah molor lu”
“apaan sih lu, lu peringkat 4 aja sok-sokan nasehatin lagi”

Kami terus bercanda, Ve pun sesekali ikut bercanda dan tertawa. Kebersamaan seperti ini sangat membahagiakan, akan kah kebersamaan ini bisa terus berlanjut, dan lagi perasaan ku pada Ve yang terus menerus meluap memenuhi hatiku, semakin tak rela jika suatu saat harus kehilangan kebersamaan ini.

“besok kita berangkat, udah pada siap-siap belum?” tanyaku.
“aah” serempak mereka seperti tersentak.
“kenapa?” tanyaku lagi.
“aahh, gakpapa kok, iya kita udah siap-siap keles, ya kan Ve?” Ve hanya mengangguk.
“bagus deh, jam 8 kan gue jemputnya?”
“iya jam 8, jangan kurang jangan lebih” jawab Kinal.
“ciiee, searching lagi soal Bromo” goda ku saat melihat ponsel Ve.
“iya nih, pasti sangat menyenangkan sekali kalo kita ada disini bersama, selalu bertiga”
“yaelah Ve, kan besok kita udah berangkat, tinggal hitungan jam aja kita udah ada disitu” jawabku.

Entah hanya perasaan ku atau memang nyata, sedikit ku lihat mata Ve berkaca-kaca.
“Ada apa Ve? Apa yang kamu sembunyikan dari ku?” batinku.

***
Jekeitiiii~~~ Fourty Eight! Prak prak Prak~~~
Dering telepon yang memekakkan telinga membangunkan ku dari tidur.

“siapa sih pagi-pagi udah telepon” gerutu ku sembari mencari ponsel di meja dekat kasur ku.
“hal. .” belum selesai aku bicara, tapi suara ku dipotong.
“woooiiiiii, banguuuuunnn!!!, mandiiii!!!, siap siaaaaapp!!!, kita mau berangkat hari iniiiii, jangan lupa jemput gue yaaaaa” ya ampun, suara Kinal begitu keras ditelpon.
“Iya ben. .” tuut tuut tuut, lagi, belum selesai berucap teleponnya langsung dimatikan.
“apaan sih, masih pagi udah resek banget” gerutu ku.

Aku pun beranjak dari kasur dan segera mandi, setelah mandi aku bersiap dan memeriksa segala kelengkapan dan perbekalan untuk mendaki nanti. Ya, mendaki, gunung yang cukup terkenal karena pemandangan Sunrise nya, serta lautan pasirnya yang indah bagai berada di gurun Afrika, gunung Bromo. Sebenarnya aku agak ragu ketika pertama kali Kinal menyarankan ide ini, karena biar bagaimana pun cuma aku sendiri yang cowok, menjadi tanggung jawab ku untuk menjaga mereka, tapi melihat semangat Kinal yang menggebu serta ketertarikan Ve yang teramat sangat, jadi kuturuti saja rencananya ini.
Setelah beres segera ku pacu mobil menuju rumah Kinal, sesampainya dirumah Kinal, rupanya ia sudah menunggu di pintu depan rumah, ketika melihat ku ia langsung berlari kecil menuju pintu pagar menghampiri ku.

“barang-barang lu mana?” tanyaku.
“aahh, udah ditempat Ve semua” jawabnya.
“kapan lu siapinnya?”
“urusan cewek lah, mau tau aja lu,, ayo cepetan jalan”

Hmmm.. aneh. Ku pacu mobil ku menuju rumah Veranda. Sesampainya dirumah Ve ada pemandangan ganjil yang terlihat didepan rumahnya.

“nal, orang tua Ve juga ikut ya? Kok pada masukin kopor ke mobil?” tanyaku pada Kinal, tapi ia tidak menjawab.
“pagi om tante” sapa ku dan Kinal.
“oh, pagi nak,, ikut nganter ya?” tanya ibu Ve.
“nganter? Kemana ya tan?” tanyaku bingung.
“ke bandara, pagi ini tante om sama Ve mau berangkat ke Jepang, karena ayah Ve dapat promosi kerja disana” jawab ibu Ve.
“hah!! Ke jepang?,, berapa lama tante? Terus Ve nya mana?”
“mungkin paling cepet 2 tahun,,, itu Ve masih didalam”

DEG, jantungku terasa berhenti berdetak. Kulihat Kinal hanya menunduk. Kutarik tangan Kinal masuk kerumah untuk menemui Ve.

“Ve, kamu kok gak bilang?” spontan ku bertanya saat melihat sosok Ve yang sedang menghadap dinding melihat ke sebuah foto besar yang terpajang di kamarnya. Foto kami bertiga.
Mendengar suaraku, ia berbalik lalu memelukku dan Kinal.

“maafin aku, aku gak bilang maaf” ucapnya lirih sambil menangis.
“gua juga minta maaf, gua tau tapi gak kabarin lu” ucap Kinal yang membuatku semakin terkejut.

Hantaman yang sangat keras, itu lah yang hatiku rasakan sekarang. Tak dapat ku gerakan tubuhku. Gemetar tubuhku semakin hebat, bahkan bernafas pun rasanya sulit. Indra pengelihatan pun dikaburkan oleh air mata. Aku menangis.

“kenapa?” tanyaku pedih. Ku lepaskan pelukan mereka berdua.
“jawab, kenapa?.. Ve, Kinal, jawab!” semakin deras air mata ku.
“karena gua tau perasaan lu” jawab Kinal.
“Ve, jawab Ve” kuraih kedua lengan Ve, menatap kedua matanya dalam.
“ karena, aku gak mau buat kamu kepikiran, aku gak mau kamu hilang semangat seperti aku” jawabannya membuat ku bingung.
“karena, perasaan ku sama dengan perasan kamu ke aku” deras air mata Ve mengalir.

Mungkinkah?, kenapa harus disaat seperti ini aku mengetahuinya. Perasaan ku terbalas, tapi ia akan segera pergi untuk waktu yang cukup lama. Harus seperti apa sekarang, bahagia atau merana?. Entahlah, isi hatiku tak karuan.
Ku lepas kepergian Ve dan keluarganya dengan tangisan, tapi dalam tangisanku terukir senyum dibibir. Aneh memang, karena memang tidak ada kata yang mampu menggambarkan perasaanku sekarang.

***
Beberapa minggu berlalu, dan tahun ajaran baru pun sudah dimulai, kini aku dan Kinal sudah ditingkat 3, kami bersyukur masih diberi kesempatan satu kelas lagi.
“Nal. .”
“iya?”
“kira-kira, Ve lagi ngapain ya?” Kinal hanya tersenyum melihatku.
"Ve, akan kutunggu kepulangan mu, akan aku tunggu" air mata ku menetes.

END


NB : thanks for reading, tolong kritik saran ya.
dan jangan lupa follow twitter @Adit_PradiptaP
:D