WILL BE WAIT FOR YOU
Koridor sekolah yang tadinya ramai kini sunyi senyap,
setiap pasang mata menatap pada satu adegan yang sedang terjadi, seorang siswa
tingkat 1 SMU yang tengah berlutut dihadapan siswi kakak kelasnya yang
tersenyum penuh keramahan dan kedamaian. Siswa itu kelihatannya gugup,
tangannya yang memegang bunga mulai berkeringat dan gemetar.
“kakak mau gak jadi
pacarku?” sepenggal kalimat yang terlontar itu sontak membuat siswi itu
terkejut tapi semakin tersenyum.
“kamu kelas berapa?”
tanya sang kakak kelas sambil sedikit membungkukan badan dengan senyum yang
semakin merekah.
“kelas 1 kak”
“hmmmm.. perjalanan
kamu masih panjang, kakak juga. Lebih baik kamu selesaikan sekolah, terus
kuliah. Nah setelah itu kamu tentuin siapa yang cocok jadi pendamping kamu,
kalo kakak yang kamu anggap pantas dan tepat, datanglah kepada kakak disaat
yang tepat” jawab siswi itu dengan penuh karisma dan senyum yang tak pudar
sedikit pun.
“ini bunganya buat
kakak?” tanyanya lagi.
“iya kak” jawab sang
adik kelas dengan senyum malu-malu.
“makasih ya” siswi itu
pun mengambil bunga itu sambil tersenyum hangat kepada sang adik kelas.
Perlahan siswi itu
pergi meninggalkan adik kelasnya, apakah adik kelas itu terluka?. Sepertinya
tidak, karena ia malah tersenyum bahagia. Luar biasa, penolakannya itu sangat
halus dan lembut, bahkan bisa dijadikan motivasi untuk serius bersekolah hingga
sukses. Hal seperti ini memang tidak jarang, karena siswi itu memang sangat
terkenal di sekolah ini, bahkan aku pun yang satu tingkat dengannya merasa
sangat kagum dan jujur aku juga menyukainya, tapi aku tidak pernah
mengungkapkan isi hatiku padanya, karena begitu banyak siswa di sekolah ini
dari tingkat 1 sampai tingkat 3 yang pernah menyatakan perasaan padanya, dan
tidak ada satupun yang ia terima, semua ia tolak dengan jawaban yang tak
terduga, tapi tetap dengan penolakan halus. Dia Jessica Veranda, gadis yang
bisa dibilang sempurna luar dan dalam, paras yang cantik dan anggun, diimbangi
dengan sikap dan sifat dewasa yang kritis dan diplomatis, tapi sedikit pemalu.
Selain karena aku kurang nyali untuk menyatakan perasaan padanya, ada hal lain
yang membuatku urung untuk melakukannya, karena dia adalah sahabatku, aku takut
kehilangan kedekatan sebagai sahabat karena keegoisan hatiku.
Setelah adegan romansa
sekolahan berakhir dengan perginya Veranda, atmosfir koridor pun kembali
normal, ramainya siswa-siswi pun mulai meriuhkan suasana khas pagi hari
disekolah.
“ciee yang pagi-pagi
dapat bunga, wangi bener lagi bunganya”
“apaan sih?” jawabnya
malu-malu.
Kami pun berjalan
beriringan menuju kelas, setibanya dikelas kami berdua disambut dengan satu
sahabat kami lagi, dia adalah gadis yang enerjik dan sangat suka bercanda, tapi
sekalinya serius, auranya berubah menjadi seperti sosok pemimpin yang tegas dan
disiplin, dialah Devi Kinal Putri. Kami bertiga sudah bersahabat sejak kelas 4
SD, saat itu Ve adalah murid baru pindahan dari luar kota. Sejak itu kami
selalu 1 sekolah, berkembang menjadi remaja bersama. Walaupun aku satu-satunya
cowok, tapi aku tidak berkembang jadi seperti cowok alay, aku malah lebih
kearah seperti pelindung bagi mereka berdua.. #tssaah
“wuiih, ni princess
pagi-pagi udah bawa bunga aja” sapa kinal pada Veranda.
“biasalah, dia kan
gebetan semua cowok disekolah ini” jawabku bercanda.
“coba liat bunganya,,,
wuih wangi banget, buat gue aja ya” kinal merebut bunga itu dan memintanya
dengan wajah penuh harap.
“enak aja, itu bunga
buat aku” Ve kembali merebut bunganya.
“pelit banget sih, ntar
juga ada yang kasih bunga lagi”
“udah-udah, ntar gue
beliin lu bunga, masih pagi udah berisik” sahutku.
“yeee, males banget
dapat bunga dari lu,, gue mau bunga dari princess Ve”
“lah, dari pada ga
pernah ada yang kasih lu bunga”
“sorry aje ye, gue
sering keles dapat bunga,, ya kan Ve?” jawabnya tak mau kalah.
“Bunga apaan, bunga
Raflesia Arnoldy?” sahutku.
Veranda hanya tersenyum
melihat pertikaian kami. Canda pagi
hari seperti ini memang sering kami lakukan, karena kami sudah sangat dekat.
Bell tanda mulai
pelajaran sudah berbunyi, memaksa kami menghentikan candaan dan kembali ke
kursi masing-masing untuk memulai pelajaran.
***
“Heh, bangun,, ikut
ngantin gak?” terdengar suara gadis yang tak asing membangunkanku.
“yaudah kalo gak mau
ikut, daah”
“iya ikut-ikut, tunggu
bentar nal” sial, aku ketiduran lagi dijam pelajaran pertama dan kedua.
Dengan berat aku bangun
dan beranjak dari kursiku, seperti ini lah kedekatan ikatan persahabatan kami,
hampir setiap kegiatan kami lakukan bersama, bahkan sering kali aku ikut
menemani mereka pergi belanja pakaian wanita, kecuali pakaian dalam tentunya.
“sekali-sekali kita
jalan ketempat wisata alam lagi yuk, bosen gue kalo setiap pergi ke mall,
nonton, dufan atau cuma ngumpul dirumah
Ve” dengan mulut penuh jajanan khas sekolahan Kinal membuka obrolan.
“hmmm, boleh juga tuh..
udah lama juga kita gak main outbond” sahutku.
“maksud gue kali ini
bukan main outbond, tapi kita mendaki gunung, pergi ke goa gitu atau air terjun”
“busetdah, mesti keluar
kota dong?” jawabku disertai pertanyaan.
“iyalah, kenapa? Takut?”
delik Kinal.
“Oke, siapa takut!”
“Kirain lu takut, lu
gimana Ve? Diem aja dari tadi”
“hmmm,, you know lah..
tapi kan kita bentar lagi ujian kenaikan?” jawabnya.
“habis ujian gimana?”
saran Kinal.
Kami terus melanjutkan
obrolan,menentukan waktu, tempat dan persiapan-persiapannya, Kinal yang memang
jiwa kepemimpinannya yang tinggi menyusun rencana liburan kami ini, bukannya
aku sebagai cowok kalah sih, tapi aku lebih suka untuk mengikuti alur saja.
“oke kalo gitu fix ya,
kita ke Jawa Timur pas liburan kenaikan kelas bulan depan?”
“siiaapp!” jawab Ve dan
aku berbarengan.
***
Setelah adanya rencana
liburan keluar kota, kami jadi jarang pergi keluar karena kami semua menabung
untuk mengumpulkan dana liburan, kecuali Veranda, ia berasal dari keluarga
menengah keatas, jadi tidak perlu menabung untuk liburan nanti, tapi karena
kesetia kawanannya, ia juga tidak pernah hangout. Selain itu juga kami lebih
fokus untuk mempersiapkan diri di ujian kenaikan kelas. Setiap ada waktu kami
selalu belajar bersama dirumah Veranda. Rumah Veranda sudah merupakan rumah
kedua bagi aku dan Kinal, kami juga sudah sangat akrab dengan orang tuanya,
bahkan karena saking akrabnya, orang tua Ve sudah menganggap aku dan Kinal
sebagai anak mereka juga.
Tidak terasa ujian
kenaikan telah berlangsung 5 hari, dan hari ini adalah ujian terakhir. Itu
berarti waktu liburan kami semakin dekat.
“yeeay,, akhirnya
selesai ujiannya” seru Kinal saat kami sudah berkumpul dirumah Ve, diruang
santai tepatnya.
“iya nih, ujiannya kita
lancar ya”
“iyalah, kan ada Ve
yang selalu bantuin kita belajar sebelum ujian.. makasih ya Ve sayang” ucap
Kinal sambil memeluk dan mencium pipi Ve.
“iihh, jangan gitu dong
nal, malu tau” hindar Ve.
“hmmmm,, minggu depan
udah pengumuman kenaikan kan?.. berarti minggu depannya lagi kita bisa pergi
liburan” ucapku.
“hmmmm… iya nih,
akhirnya bentar lagi rencana gue bakal terwujud” ucap Kinal, meskipun ada nada
keraguan, tapi wajahnya tetap bersemangat. Aneh.
“iyaaa,, cuma rencana
lu, bukan rencana kita” sahutku.
“ciieee ngambek, iya iya..
rencana kita bersama” jawabnya.
Lagi, Ve tersenyum
melihat percakapan kami, tak pernah bosan aku melihat senyumnya itu. Senyum
sederhana yang khas, menonjolkan tulang pipinya. Walaupun sederhana tapi akan
membuat bahagia bagi siapa saja yang melihatnya. Sungguh Ve adalah gadis idaman
bagi siapa saja, sifatnya yang pendiam dan tidak banyak bicara, serta sikap
dewasa yang tersirat dari kehati-hatiannya dalam berucap dan bertindak, dibalut
keanggunan wajah bak bidadari khayangan. Tanpa sadar perasaan ini semakin
membludak memenuhi setiap relung hati.
Tapi dibalik senyumnya
kali ini, aku melihat kesedihan, sebentar iya terdiam dan tertunduk, tapi
sesegera mungkin iya merubah ekspresinya lagi menjadi bahagia karena candaan
Kinal. Tanpa sadar aku melamun.
“woii ngelamun aja lu”
suara Kinal mengejutkanku.
“tuh Ibu nya Ve manggil
lu tuh, bantuin sana siapin makan di meja”
“ahh lu nal, bukannya
nyiapin makan tuh tugasnya cewek ya” gerutu ku.
Akupun langsung
beranjak untuk membantu Ibu Ve menyiapkan makanan, sedangkan Kinal hanya
mentertawakanku.
Kurang lebih setengah
jam aku menyiapkan makanan, karena memang banyak sekali yang harus disiapkan.
Aku pun kembali ke ruang santai untuk memanggil Ve dan Kinal,, duh serasa
jadi pembantu.. ku lihat Kinal tertidur di sofa sedangkan Ve membaca
Novel kesukaannya.
“hmmm,, kesempatan nih
ngerjain Kinal” gumam ku.
Saat Ve melihat ku, aku
hanya menempelkan jari ku dibibir dan berucap “ssssttt”, Ve pun mengerti
maksudku, setelah cukup dekat dengan Kinal, aku mendekatkan mulut ku kearah
telinganya. . .
“woooiiiii!!!,,, bangun!!,
makanannya udah siap” teriakku tepat ditelinga Kinal.
Membuatnya sangat
terkejut dan bangun secara mendadak dengan reflek yang sangat lucu untuk
dilihat, bahkan Ve pun tertawa melihat reflek Kinal.
“woh sialan!! Sini lu
cari gara-gara sama gue” Kinal mengejarku dan melemparkan bantal dan boneka
yang ada didekatnya.
Gaduh dan ricuh, itulah
kesan yang terlihat dari candaan kami, tapi keluarga Ve tidak pernah keberatan,
bahkan saat Kinal sakit dan tidak bisa main kerumah Ve, ibunda Ve merasa rumah
menjadi sepi.
“oke nal sorry sorry
sorry, canda doang ahh, ayo ke meja makan, lu udah laper kan?” bujuk ku
menghentikan gempuran Kinal.
“selamat lu!!, untung
gua laper, kalo enggak gua serang terus lu sampe K.O” dengusnya lalu pergi ke
arah meja makan. Ve yang melihat kami hanya tertawa terkikih.
Selesai makan kami
kembali keruang santai, mengobrol, bercanda dll.
“ciiee yang searching
terus soal Bromo, udah gak sabar banget ya?” tanyaku saat sekilas melihat layar
ponsel Ve. Ve hanya menjawab pertanyaan ku dengan anggukan dan senyuman. Lagi,
kurasakan keanehan dalam senyum Ve.
Tidak terasa waktu
sudah menunjukan pukul 5 sore, kami pun pamit untuk pulang kepada ibunda Ve.
“tante,, kami pamit pulang
ya, besok main lagi” ucap kami sambil mencium tangan ibunda Ve.
Kami pun pulang
bersama, sebelum pulang aku mengantar Kinal terlebih dahulu.
“Nal. .”
“iya?”
“lu ngerasa ada yang
aneh gak sama Ve?”
“aneh apaan?, gak ada
kok, lu aja yang sensitif kali” jawabnya, lalu menutup telinganya dengan
earphone seolah tidak ingin berbicara dengan ku.
***
Tidak terasa hari
sidang dan pengumuman pun datang, hari pengumuman kenaikan kelas. Hari yang
kami tunggu karena ada rencana kami yang sudah menunggu, juga sekaligus menjadi
hari yang mengkhawatirkan karena bisa jadi di tingkat selanjutnya kami tidak
sekelas. Tapi kami tidak mau ambil pusing, karena yang terpenting jalani dan
nikmati dulu yang ada, jangan terlalu memikirkan hal yang masih jauh didepan
dan belum tentu kepastiannya.
“yeeay, kita bertiga
naik kelas” lagi, Kinal yang pertama kali membuka obrolan saat menuju kantin
sekolah.
“girang banget lu, tadi
pas pengumuman diem kaya patung” ledekku.
“apaan sih, komen aja
lu”
“oiya, selamat ya Ve
masuk 3 besar lagi” ucapku. Ve hanya menjawab dengan senyuman dan anggukkan.
“ga usah dikasih
selamat ahh, bosen gue dengernya, tiap semesteran 3 besar mulu, mulai dari SD
ga pernah peringkat 4 kebawah” ucap Kinal kesal karena iri.
“yeeee,, lu kalo mau 3
besar juga belajar bener-bener, jangan tiap kita belajar malah molor lu”
“apaan sih lu, lu
peringkat 4 aja sok-sokan nasehatin lagi”
Kami terus bercanda, Ve
pun sesekali ikut bercanda dan tertawa. Kebersamaan seperti ini sangat
membahagiakan, akan kah kebersamaan ini bisa terus berlanjut, dan lagi perasaan
ku pada Ve yang terus menerus meluap memenuhi hatiku, semakin tak rela jika
suatu saat harus kehilangan kebersamaan ini.
“besok kita berangkat,
udah pada siap-siap belum?” tanyaku.
“aah” serempak mereka
seperti tersentak.
“kenapa?” tanyaku lagi.
“aahh, gakpapa kok, iya
kita udah siap-siap keles, ya kan Ve?” Ve hanya mengangguk.
“bagus deh, jam 8 kan
gue jemputnya?”
“iya jam 8, jangan
kurang jangan lebih” jawab Kinal.
“ciiee, searching lagi
soal Bromo” goda ku saat melihat ponsel Ve.
“iya nih, pasti sangat
menyenangkan sekali kalo kita ada disini bersama, selalu bertiga”
“yaelah Ve, kan besok
kita udah berangkat, tinggal hitungan jam aja kita udah ada disitu” jawabku.
Entah hanya perasaan ku
atau memang nyata, sedikit ku lihat mata Ve berkaca-kaca.
“Ada apa Ve? Apa yang
kamu sembunyikan dari ku?” batinku.
***
Jekeitiiii~~~ Fourty Eight! Prak prak Prak~~~
Dering telepon yang
memekakkan telinga membangunkan ku dari tidur.
“siapa sih pagi-pagi
udah telepon” gerutu ku sembari mencari ponsel di meja dekat kasur ku.
“hal. .” belum selesai
aku bicara, tapi suara ku dipotong.
“woooiiiiii,
banguuuuunnn!!!, mandiiii!!!, siap siaaaaapp!!!, kita mau berangkat hari
iniiiii, jangan lupa jemput gue yaaaaa” ya ampun, suara Kinal begitu keras
ditelpon.
“Iya ben. .” tuut tuut
tuut, lagi, belum selesai berucap teleponnya langsung dimatikan.
“apaan sih, masih pagi
udah resek banget” gerutu ku.
Aku pun beranjak dari
kasur dan segera mandi, setelah mandi aku bersiap dan memeriksa segala
kelengkapan dan perbekalan untuk mendaki nanti. Ya, mendaki, gunung yang cukup
terkenal karena pemandangan Sunrise nya, serta lautan pasirnya yang indah bagai
berada di gurun Afrika, gunung Bromo. Sebenarnya aku agak ragu ketika pertama
kali Kinal menyarankan ide ini, karena biar bagaimana pun cuma aku sendiri yang
cowok, menjadi tanggung jawab ku untuk menjaga mereka, tapi melihat semangat
Kinal yang menggebu serta ketertarikan Ve yang teramat sangat, jadi kuturuti saja
rencananya ini.
Setelah beres segera ku
pacu mobil menuju rumah Kinal, sesampainya dirumah Kinal, rupanya ia sudah
menunggu di pintu depan rumah, ketika melihat ku ia langsung berlari kecil menuju
pintu pagar menghampiri ku.
“barang-barang lu
mana?” tanyaku.
“aahh, udah ditempat Ve
semua” jawabnya.
“kapan lu siapinnya?”
“urusan cewek lah, mau
tau aja lu,, ayo cepetan jalan”
Hmmm.. aneh. Ku pacu
mobil ku menuju rumah Veranda. Sesampainya dirumah Ve ada pemandangan ganjil
yang terlihat didepan rumahnya.
“nal, orang tua Ve juga
ikut ya? Kok pada masukin kopor ke mobil?” tanyaku pada Kinal, tapi ia tidak
menjawab.
“pagi om tante” sapa ku
dan Kinal.
“oh, pagi nak,, ikut
nganter ya?” tanya ibu Ve.
“nganter? Kemana ya
tan?” tanyaku bingung.
“ke bandara, pagi ini
tante om sama Ve mau berangkat ke Jepang, karena ayah Ve dapat promosi kerja
disana” jawab ibu Ve.
“hah!! Ke jepang?,, berapa
lama tante? Terus Ve nya mana?”
“mungkin paling cepet 2
tahun,,, itu Ve masih didalam”
DEG, jantungku
terasa berhenti berdetak. Kulihat Kinal hanya menunduk. Kutarik tangan Kinal
masuk kerumah untuk menemui Ve.
“Ve, kamu kok gak
bilang?” spontan ku bertanya saat melihat sosok Ve yang sedang menghadap
dinding melihat ke sebuah foto besar yang terpajang di kamarnya. Foto kami
bertiga.
Mendengar suaraku, ia
berbalik lalu memelukku dan Kinal.
“maafin aku, aku gak
bilang maaf” ucapnya lirih sambil menangis.
“gua juga minta maaf,
gua tau tapi gak kabarin lu” ucap Kinal yang membuatku semakin terkejut.
Hantaman yang sangat
keras, itu lah yang hatiku rasakan sekarang. Tak dapat ku gerakan tubuhku.
Gemetar tubuhku semakin hebat, bahkan bernafas pun rasanya sulit. Indra
pengelihatan pun dikaburkan oleh air mata. Aku menangis.
“kenapa?” tanyaku
pedih. Ku lepaskan pelukan mereka berdua.
“jawab, kenapa?.. Ve,
Kinal, jawab!” semakin deras air mata ku.
“karena gua tau
perasaan lu” jawab Kinal.
“Ve, jawab Ve” kuraih
kedua lengan Ve, menatap kedua matanya dalam.
“ karena, aku gak mau
buat kamu kepikiran, aku gak mau kamu hilang semangat seperti aku” jawabannya
membuat ku bingung.
“karena, perasaan ku
sama dengan perasan kamu ke aku” deras air mata Ve mengalir.
Mungkinkah?, kenapa
harus disaat seperti ini aku mengetahuinya. Perasaan ku terbalas, tapi ia akan
segera pergi untuk waktu yang cukup lama. Harus seperti apa sekarang, bahagia
atau merana?. Entahlah, isi hatiku tak karuan.
Ku lepas kepergian Ve
dan keluarganya dengan tangisan, tapi dalam tangisanku terukir senyum dibibir.
Aneh memang, karena memang tidak ada kata yang mampu menggambarkan perasaanku
sekarang.
***
Beberapa minggu
berlalu, dan tahun ajaran baru pun sudah dimulai, kini aku dan Kinal sudah
ditingkat 3, kami bersyukur masih diberi kesempatan satu kelas lagi.
“Nal. .”
“iya?”
“kira-kira, Ve lagi
ngapain ya?” Kinal hanya tersenyum melihatku.
"Ve, akan kutunggu
kepulangan mu, akan aku tunggu" air mata ku menetes.
END
NB : thanks for reading, tolong kritik saran ya.
dan jangan lupa follow twitter @Adit_PradiptaP
:D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar