Rabu, 01 April 2015

Will Be Wait For You



WILL BE WAIT FOR YOU

            Koridor sekolah yang tadinya ramai kini sunyi senyap, setiap pasang mata menatap pada satu adegan yang sedang terjadi, seorang siswa tingkat 1 SMU yang tengah berlutut dihadapan siswi kakak kelasnya yang tersenyum penuh keramahan dan kedamaian. Siswa itu kelihatannya gugup, tangannya yang memegang bunga mulai berkeringat dan gemetar.

“kakak mau gak jadi pacarku?” sepenggal kalimat yang terlontar itu sontak membuat siswi itu terkejut tapi semakin tersenyum.
“kamu kelas berapa?” tanya sang kakak kelas sambil sedikit membungkukan badan dengan senyum yang semakin merekah.
“kelas 1 kak”
“hmmmm.. perjalanan kamu masih panjang, kakak juga. Lebih baik kamu selesaikan sekolah, terus kuliah. Nah setelah itu kamu tentuin siapa yang cocok jadi pendamping kamu, kalo kakak yang kamu anggap pantas dan tepat, datanglah kepada kakak disaat yang tepat” jawab siswi itu dengan penuh karisma dan senyum yang tak pudar sedikit pun.
“ini bunganya buat kakak?” tanyanya lagi.
“iya kak” jawab sang adik kelas dengan senyum malu-malu.
“makasih ya” siswi itu pun mengambil bunga itu sambil tersenyum hangat kepada sang adik kelas.

Perlahan siswi itu pergi meninggalkan adik kelasnya, apakah adik kelas itu terluka?. Sepertinya tidak, karena ia malah tersenyum bahagia. Luar biasa, penolakannya itu sangat halus dan lembut, bahkan bisa dijadikan motivasi untuk serius bersekolah hingga sukses. Hal seperti ini memang tidak jarang, karena siswi itu memang sangat terkenal di sekolah ini, bahkan aku pun yang satu tingkat dengannya merasa sangat kagum dan jujur aku juga menyukainya, tapi aku tidak pernah mengungkapkan isi hatiku padanya, karena begitu banyak siswa di sekolah ini dari tingkat 1 sampai tingkat 3 yang pernah menyatakan perasaan padanya, dan tidak ada satupun yang ia terima, semua ia tolak dengan jawaban yang tak terduga, tapi tetap dengan penolakan halus. Dia Jessica Veranda, gadis yang bisa dibilang sempurna luar dan dalam, paras yang cantik dan anggun, diimbangi dengan sikap dan sifat dewasa yang kritis dan diplomatis, tapi sedikit pemalu. Selain karena aku kurang nyali untuk menyatakan perasaan padanya, ada hal lain yang membuatku urung untuk melakukannya, karena dia adalah sahabatku, aku takut kehilangan kedekatan sebagai sahabat karena keegoisan hatiku.

Setelah adegan romansa sekolahan berakhir dengan perginya Veranda, atmosfir koridor pun kembali normal, ramainya siswa-siswi pun mulai meriuhkan suasana khas pagi hari disekolah.

“ciee yang pagi-pagi dapat bunga, wangi bener lagi bunganya”
“apaan sih?” jawabnya malu-malu.

Kami pun berjalan beriringan menuju kelas, setibanya dikelas kami berdua disambut dengan satu sahabat kami lagi, dia adalah gadis yang enerjik dan sangat suka bercanda, tapi sekalinya serius, auranya berubah menjadi seperti sosok pemimpin yang tegas dan disiplin, dialah Devi Kinal Putri. Kami bertiga sudah bersahabat sejak kelas 4 SD, saat itu Ve adalah murid baru pindahan dari luar kota. Sejak itu kami selalu 1 sekolah, berkembang menjadi remaja bersama. Walaupun aku satu-satunya cowok, tapi aku tidak berkembang jadi seperti cowok alay, aku malah lebih kearah seperti pelindung bagi mereka berdua.. #tssaah

“wuiih, ni princess pagi-pagi udah bawa bunga aja” sapa kinal pada Veranda.
“biasalah, dia kan gebetan semua cowok disekolah ini” jawabku bercanda.
“coba liat bunganya,,, wuih wangi banget, buat gue aja ya” kinal merebut bunga itu dan memintanya dengan wajah penuh harap.
“enak aja, itu bunga buat aku” Ve kembali merebut bunganya.
“pelit banget sih, ntar juga ada yang kasih bunga lagi”
“udah-udah, ntar gue beliin lu bunga, masih pagi udah berisik” sahutku.
“yeee, males banget dapat bunga dari lu,, gue mau bunga dari princess Ve”
“lah, dari pada ga pernah ada yang kasih lu bunga”
“sorry aje ye, gue sering keles dapat bunga,, ya kan Ve?” jawabnya tak mau kalah.
“Bunga apaan, bunga Raflesia Arnoldy?” sahutku.

Veranda hanya tersenyum melihat pertikaian kami. Canda pagi hari seperti ini memang sering kami lakukan, karena kami sudah sangat dekat.
Bell tanda mulai pelajaran sudah berbunyi, memaksa kami menghentikan candaan dan kembali ke kursi masing-masing untuk memulai pelajaran.

***
“Heh, bangun,, ikut ngantin gak?” terdengar suara gadis yang tak asing membangunkanku.
“yaudah kalo gak mau ikut, daah”
“iya ikut-ikut, tunggu bentar nal” sial, aku ketiduran lagi dijam pelajaran pertama dan kedua.

Dengan berat aku bangun dan beranjak dari kursiku, seperti ini lah kedekatan ikatan persahabatan kami, hampir setiap kegiatan kami lakukan bersama, bahkan sering kali aku ikut menemani mereka pergi belanja pakaian wanita, kecuali pakaian dalam tentunya.

“sekali-sekali kita jalan ketempat wisata alam lagi yuk, bosen gue kalo setiap pergi ke mall, nonton, dufan  atau cuma ngumpul dirumah Ve” dengan mulut penuh jajanan khas sekolahan Kinal membuka obrolan.
“hmmm, boleh juga tuh.. udah lama juga kita gak main outbond” sahutku.
“maksud gue kali ini bukan main outbond, tapi kita mendaki gunung, pergi ke goa gitu atau air terjun”
“busetdah, mesti keluar kota dong?” jawabku disertai pertanyaan.
“iyalah, kenapa? Takut?” delik Kinal.
“Oke, siapa takut!”
“Kirain lu takut, lu gimana Ve? Diem aja dari tadi”
“hmmm,, you know lah.. tapi kan kita bentar lagi ujian kenaikan?” jawabnya.
“habis ujian gimana?” saran Kinal.

Kami terus melanjutkan obrolan,menentukan waktu, tempat dan persiapan-persiapannya, Kinal yang memang jiwa kepemimpinannya yang tinggi menyusun rencana liburan kami ini, bukannya aku sebagai cowok kalah sih, tapi aku lebih suka untuk mengikuti alur saja.

“oke kalo gitu fix ya, kita ke Jawa Timur pas liburan kenaikan kelas bulan depan?”
“siiaapp!” jawab Ve dan aku berbarengan.

***
Setelah adanya rencana liburan keluar kota, kami jadi jarang pergi keluar karena kami semua menabung untuk mengumpulkan dana liburan, kecuali Veranda, ia berasal dari keluarga menengah keatas, jadi tidak perlu menabung untuk liburan nanti, tapi karena kesetia kawanannya, ia juga tidak pernah hangout. Selain itu juga kami lebih fokus untuk mempersiapkan diri di ujian kenaikan kelas. Setiap ada waktu kami selalu belajar bersama dirumah Veranda. Rumah Veranda sudah merupakan rumah kedua bagi aku dan Kinal, kami juga sudah sangat akrab dengan orang tuanya, bahkan karena saking akrabnya, orang tua Ve sudah menganggap aku dan Kinal sebagai anak mereka juga.
Tidak terasa ujian kenaikan telah berlangsung 5 hari, dan hari ini adalah ujian terakhir. Itu berarti waktu liburan kami semakin dekat.

“yeeay,, akhirnya selesai ujiannya” seru Kinal saat kami sudah berkumpul dirumah Ve, diruang santai tepatnya.
“iya nih, ujiannya kita lancar ya”
“iyalah, kan ada Ve yang selalu bantuin kita belajar sebelum ujian.. makasih ya Ve sayang” ucap Kinal sambil memeluk dan mencium pipi Ve.
“iihh, jangan gitu dong nal, malu tau” hindar Ve.
“hmmmm,, minggu depan udah pengumuman kenaikan kan?.. berarti minggu depannya lagi kita bisa pergi liburan” ucapku.
“hmmmm… iya nih, akhirnya bentar lagi rencana gue bakal terwujud” ucap Kinal, meskipun ada nada keraguan, tapi wajahnya tetap bersemangat. Aneh.
“iyaaa,, cuma rencana lu, bukan rencana kita” sahutku.
“ciieee ngambek, iya iya.. rencana kita bersama” jawabnya.

Lagi, Ve tersenyum melihat percakapan kami, tak pernah bosan aku melihat senyumnya itu. Senyum sederhana yang khas, menonjolkan tulang pipinya. Walaupun sederhana tapi akan membuat bahagia bagi siapa saja yang melihatnya. Sungguh Ve adalah gadis idaman bagi siapa saja, sifatnya yang pendiam dan tidak banyak bicara, serta sikap dewasa yang tersirat dari kehati-hatiannya dalam berucap dan bertindak, dibalut keanggunan wajah bak bidadari khayangan. Tanpa sadar perasaan ini semakin membludak memenuhi setiap relung hati.

Tapi dibalik senyumnya kali ini, aku melihat kesedihan, sebentar iya terdiam dan tertunduk, tapi sesegera mungkin iya merubah ekspresinya lagi menjadi bahagia karena candaan Kinal. Tanpa sadar aku melamun.

“woii ngelamun aja lu” suara Kinal mengejutkanku.
“tuh Ibu nya Ve manggil lu tuh, bantuin sana siapin makan di meja”
“ahh lu nal, bukannya nyiapin makan tuh tugasnya cewek ya” gerutu ku.

Akupun langsung beranjak untuk membantu Ibu Ve menyiapkan makanan, sedangkan Kinal hanya mentertawakanku.

Kurang lebih setengah jam aku menyiapkan makanan, karena memang banyak sekali yang harus disiapkan. Aku pun kembali ke ruang santai untuk memanggil Ve dan Kinal,, duh serasa  jadi pembantu.. ku lihat Kinal tertidur di sofa sedangkan Ve membaca Novel kesukaannya.

“hmmm,, kesempatan nih ngerjain Kinal” gumam ku.

Saat Ve melihat ku, aku hanya menempelkan jari ku dibibir dan berucap “ssssttt”, Ve pun mengerti maksudku, setelah cukup dekat dengan Kinal, aku mendekatkan mulut ku kearah telinganya. . .

“woooiiiii!!!,,, bangun!!, makanannya udah siap” teriakku tepat ditelinga Kinal.
Membuatnya sangat terkejut dan bangun secara mendadak dengan reflek yang sangat lucu untuk dilihat, bahkan Ve pun tertawa melihat reflek Kinal.
“woh sialan!! Sini lu cari gara-gara sama gue” Kinal mengejarku dan melemparkan bantal dan boneka yang ada didekatnya.

Gaduh dan ricuh, itulah kesan yang terlihat dari candaan kami, tapi keluarga Ve tidak pernah keberatan, bahkan saat Kinal sakit dan tidak bisa main kerumah Ve, ibunda Ve merasa rumah menjadi sepi.

“oke nal sorry sorry sorry, canda doang ahh, ayo ke meja makan, lu udah laper kan?” bujuk ku menghentikan gempuran Kinal.
“selamat lu!!, untung gua laper, kalo enggak gua serang terus lu sampe K.O” dengusnya lalu pergi ke arah meja makan. Ve yang melihat kami hanya tertawa terkikih.

Selesai makan kami kembali keruang santai, mengobrol, bercanda dll.

“ciiee yang searching terus soal Bromo, udah gak sabar banget ya?” tanyaku saat sekilas melihat layar ponsel Ve. Ve hanya menjawab pertanyaan ku dengan anggukan dan senyuman. Lagi, kurasakan keanehan dalam senyum Ve.

Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, kami pun pamit untuk pulang kepada ibunda Ve.

“tante,, kami pamit pulang ya, besok main lagi” ucap kami sambil mencium tangan ibunda Ve.
Kami pun pulang bersama, sebelum pulang aku mengantar Kinal terlebih dahulu.
“Nal. .”
“iya?”
“lu ngerasa ada yang aneh gak sama Ve?”
“aneh apaan?, gak ada kok, lu aja yang sensitif kali” jawabnya, lalu menutup telinganya dengan earphone seolah tidak ingin berbicara dengan ku.

***
Tidak terasa hari sidang dan pengumuman pun datang, hari pengumuman kenaikan kelas. Hari yang kami tunggu karena ada rencana kami yang sudah menunggu, juga sekaligus menjadi hari yang mengkhawatirkan karena bisa jadi di tingkat selanjutnya kami tidak sekelas. Tapi kami tidak mau ambil pusing, karena yang terpenting jalani dan nikmati dulu yang ada, jangan terlalu memikirkan hal yang masih jauh didepan dan belum tentu kepastiannya.

“yeeay, kita bertiga naik kelas” lagi, Kinal yang pertama kali membuka obrolan saat menuju kantin sekolah.
“girang banget lu, tadi pas pengumuman diem kaya patung” ledekku.
“apaan sih, komen aja lu”
“oiya, selamat ya Ve masuk 3 besar lagi” ucapku. Ve hanya menjawab dengan senyuman dan anggukkan.
“ga usah dikasih selamat ahh, bosen gue dengernya, tiap semesteran 3 besar mulu, mulai dari SD ga pernah peringkat 4 kebawah” ucap Kinal kesal karena iri.
“yeeee,, lu kalo mau 3 besar juga belajar bener-bener, jangan tiap kita belajar malah molor lu”
“apaan sih lu, lu peringkat 4 aja sok-sokan nasehatin lagi”

Kami terus bercanda, Ve pun sesekali ikut bercanda dan tertawa. Kebersamaan seperti ini sangat membahagiakan, akan kah kebersamaan ini bisa terus berlanjut, dan lagi perasaan ku pada Ve yang terus menerus meluap memenuhi hatiku, semakin tak rela jika suatu saat harus kehilangan kebersamaan ini.

“besok kita berangkat, udah pada siap-siap belum?” tanyaku.
“aah” serempak mereka seperti tersentak.
“kenapa?” tanyaku lagi.
“aahh, gakpapa kok, iya kita udah siap-siap keles, ya kan Ve?” Ve hanya mengangguk.
“bagus deh, jam 8 kan gue jemputnya?”
“iya jam 8, jangan kurang jangan lebih” jawab Kinal.
“ciiee, searching lagi soal Bromo” goda ku saat melihat ponsel Ve.
“iya nih, pasti sangat menyenangkan sekali kalo kita ada disini bersama, selalu bertiga”
“yaelah Ve, kan besok kita udah berangkat, tinggal hitungan jam aja kita udah ada disitu” jawabku.

Entah hanya perasaan ku atau memang nyata, sedikit ku lihat mata Ve berkaca-kaca.
“Ada apa Ve? Apa yang kamu sembunyikan dari ku?” batinku.

***
Jekeitiiii~~~ Fourty Eight! Prak prak Prak~~~
Dering telepon yang memekakkan telinga membangunkan ku dari tidur.

“siapa sih pagi-pagi udah telepon” gerutu ku sembari mencari ponsel di meja dekat kasur ku.
“hal. .” belum selesai aku bicara, tapi suara ku dipotong.
“woooiiiiii, banguuuuunnn!!!, mandiiii!!!, siap siaaaaapp!!!, kita mau berangkat hari iniiiii, jangan lupa jemput gue yaaaaa” ya ampun, suara Kinal begitu keras ditelpon.
“Iya ben. .” tuut tuut tuut, lagi, belum selesai berucap teleponnya langsung dimatikan.
“apaan sih, masih pagi udah resek banget” gerutu ku.

Aku pun beranjak dari kasur dan segera mandi, setelah mandi aku bersiap dan memeriksa segala kelengkapan dan perbekalan untuk mendaki nanti. Ya, mendaki, gunung yang cukup terkenal karena pemandangan Sunrise nya, serta lautan pasirnya yang indah bagai berada di gurun Afrika, gunung Bromo. Sebenarnya aku agak ragu ketika pertama kali Kinal menyarankan ide ini, karena biar bagaimana pun cuma aku sendiri yang cowok, menjadi tanggung jawab ku untuk menjaga mereka, tapi melihat semangat Kinal yang menggebu serta ketertarikan Ve yang teramat sangat, jadi kuturuti saja rencananya ini.
Setelah beres segera ku pacu mobil menuju rumah Kinal, sesampainya dirumah Kinal, rupanya ia sudah menunggu di pintu depan rumah, ketika melihat ku ia langsung berlari kecil menuju pintu pagar menghampiri ku.

“barang-barang lu mana?” tanyaku.
“aahh, udah ditempat Ve semua” jawabnya.
“kapan lu siapinnya?”
“urusan cewek lah, mau tau aja lu,, ayo cepetan jalan”

Hmmm.. aneh. Ku pacu mobil ku menuju rumah Veranda. Sesampainya dirumah Ve ada pemandangan ganjil yang terlihat didepan rumahnya.

“nal, orang tua Ve juga ikut ya? Kok pada masukin kopor ke mobil?” tanyaku pada Kinal, tapi ia tidak menjawab.
“pagi om tante” sapa ku dan Kinal.
“oh, pagi nak,, ikut nganter ya?” tanya ibu Ve.
“nganter? Kemana ya tan?” tanyaku bingung.
“ke bandara, pagi ini tante om sama Ve mau berangkat ke Jepang, karena ayah Ve dapat promosi kerja disana” jawab ibu Ve.
“hah!! Ke jepang?,, berapa lama tante? Terus Ve nya mana?”
“mungkin paling cepet 2 tahun,,, itu Ve masih didalam”

DEG, jantungku terasa berhenti berdetak. Kulihat Kinal hanya menunduk. Kutarik tangan Kinal masuk kerumah untuk menemui Ve.

“Ve, kamu kok gak bilang?” spontan ku bertanya saat melihat sosok Ve yang sedang menghadap dinding melihat ke sebuah foto besar yang terpajang di kamarnya. Foto kami bertiga.
Mendengar suaraku, ia berbalik lalu memelukku dan Kinal.

“maafin aku, aku gak bilang maaf” ucapnya lirih sambil menangis.
“gua juga minta maaf, gua tau tapi gak kabarin lu” ucap Kinal yang membuatku semakin terkejut.

Hantaman yang sangat keras, itu lah yang hatiku rasakan sekarang. Tak dapat ku gerakan tubuhku. Gemetar tubuhku semakin hebat, bahkan bernafas pun rasanya sulit. Indra pengelihatan pun dikaburkan oleh air mata. Aku menangis.

“kenapa?” tanyaku pedih. Ku lepaskan pelukan mereka berdua.
“jawab, kenapa?.. Ve, Kinal, jawab!” semakin deras air mata ku.
“karena gua tau perasaan lu” jawab Kinal.
“Ve, jawab Ve” kuraih kedua lengan Ve, menatap kedua matanya dalam.
“ karena, aku gak mau buat kamu kepikiran, aku gak mau kamu hilang semangat seperti aku” jawabannya membuat ku bingung.
“karena, perasaan ku sama dengan perasan kamu ke aku” deras air mata Ve mengalir.

Mungkinkah?, kenapa harus disaat seperti ini aku mengetahuinya. Perasaan ku terbalas, tapi ia akan segera pergi untuk waktu yang cukup lama. Harus seperti apa sekarang, bahagia atau merana?. Entahlah, isi hatiku tak karuan.
Ku lepas kepergian Ve dan keluarganya dengan tangisan, tapi dalam tangisanku terukir senyum dibibir. Aneh memang, karena memang tidak ada kata yang mampu menggambarkan perasaanku sekarang.

***
Beberapa minggu berlalu, dan tahun ajaran baru pun sudah dimulai, kini aku dan Kinal sudah ditingkat 3, kami bersyukur masih diberi kesempatan satu kelas lagi.
“Nal. .”
“iya?”
“kira-kira, Ve lagi ngapain ya?” Kinal hanya tersenyum melihatku.
"Ve, akan kutunggu kepulangan mu, akan aku tunggu" air mata ku menetes.

END


NB : thanks for reading, tolong kritik saran ya.
dan jangan lupa follow twitter @Adit_PradiptaP
:D